MENENUN IMAN, MERAJUT SUKACITA DI MANGAALENG


    Suasana penuh sukacita dan kehangatan persaudaraan menyelimuti Stasi St. Bernardus Mangaaleng pada perayaan Paskah bersama tingkat Paroki St. Werenfried Lambunga tahun 2026. Setelah Perayaan Ekaristi yang berlangsung khidmat, umat pun tidak langsung beranjak pulang. Mereka tetap tinggal, larut dalam kebersamaan yang telah lama dirawat sebagai tradisi iman yang hidup.

    Acara dilanjutkan dengan pesta sukacita bersama yang mengangkat tema: “Menenun Iman dengan Solidaritas.” Tema ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan menjadi napas yang menghidupi seluruh rangkaian kegiatan hari itu.

    Dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, satu per satu sambutan disampaikan. Ketua Dewan Stasi Mangaaleng sebagai tuan rumah menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran seluruh umat. Disusul oleh Ketua Dewan Paroki dan Penasihat Dewan Paroki yang dengan penuh harap mengajak seluruh umat untuk terus menjaga persatuan, memperkuat solidaritas, dan berjalan bersama dalam membangun kehidupan menggereja yang semakin hidup.

    Puncak peneguhan iman terasa saat Pastor Paroki, Romo Agustinus Wilhelmus Atawolo, Pr., menyampaikan sambutannya. Dengan suara yang tenang namun penuh makna, beliau menegaskan bahwa di tengah keberagaman yang ada, sesungguhnya umat memiliki satu iman yang sama, yakni kepada Yesus Kristus yang bangkit. Kebangkitan-Nya membawa terang bagi kehidupan, dan terang itu, sebagaimana diyakini bersama, akan selalu menuntun setiap langkah pengabdian umat.

    “Karena sesungguhnya, kita semua tidak menyukai kegelapan,” demikian penegasan yang sederhana namun menyentuh hati, mengajak umat untuk tetap berjalan dalam terang iman, kasih, dan persaudaraan.

    Setelah rangkaian sambutan yang menguatkan jiwa, suasana pun berubah menjadi lebih cair dan meriah. Umat menikmati hidangan sederhana dalam makan bersama, yang terasa istimewa karena diliputi kebersamaan. Tembang-tembang indah dari perwakilan setiap stasi pun mengalun, menambah hangatnya suasana. Canda, tawa, dan kebahagiaan menyatu dalam setiap nada.

    Kegembiraan mencapai puncaknya saat seluruh umat larut dalam dolo-dolo bersama—sebuah tarian persaudaraan yang bukan hanya menggerakkan langkah kaki, tetapi juga menyatukan hati.

    Di Mangaaleng hari itu, iman tidak hanya dirayakan dalam doa, tetapi juga dirajut dalam kebersamaan. Solidaritas tidak hanya diucapkan, tetapi sungguh dihidupi. Sebuah perayaan yang sederhana, namun sarat makna—menjadi pengingat bahwa dalam terang Kristus, umat dipanggil untuk terus berjalan bersama, sebagai satu keluarga Allah.


                                                                    

                                                                Oleh: Bapak Laurensius Mali Serani

 

Komentar

  1. Kalau mau berjalan cepat, berjalanlah sendiri, kalau mau berjalan jauh, berjalanlah bersama.
    Kebangkitan Kristus membawa DAMAI.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Gema Persaudaraan di Bumi Adonara: Saat Hujan Tak Mampu Memadamkan Api Kasih Anak Sekar-Sekami"

MINGGU PALMA: Adalah Sebuah Panggilan untuk Berjaga Bersama Tuhan