“Ketika Gembala Datang Menyapa: Pelantikan yang Menjadi Panggilan”


 

    Pagi merekah di ufuk timur, membawa cahaya baru yang menyentuh lembut Paroki St. Werenfried Lambunga. Udara pagi terasa berbeda—lebih segar, lebih hidup, seakan seluruh alam turut bersaksi atas sebuah peristiwa iman yang istimewa. Hari itu bukan sekadar hari biasa. Ia menjadi momentum rahmat, saat pelantikan Dewan Pastoral Paroki dilangsungkan dalam suasana penuh syukur dan harapan.

    Keistimewaan hari itu semakin terasa dengan kehadiran Sang Gembala. Kehadiran Bapa Uskup bukan hanya menjadi tanda kehadiran Gereja yang hidup, tetapi juga wujud kasih yang nyata bagi umat. Ini bukan sekadar kunjungan, melainkan sebuah langkah awal yang penuh makna: gembala yang datang mendekat, menyapa, dan berjalan bersama umatnya.

Suasana perayaan misa pelantikan DPP 
oleh Bapa Uskup Larantuka

    Perayaan Ekaristi berlangsung dengan khidmat, dipenuhi nuansa doa dan pujian. Para imam, frater, petugas liturgi, dan anggota koor mempersembahkan pelayanan terbaik mereka, menghadirkan keindahan yang mengangkat hati umat kepada Tuhan. Namun lebih dari itu, ada getaran batin yang mengalir dalam diam—sebuah kesadaran bahwa hari ini adalah hari pengutusan.

    Pelantikan Dewan Pastoral Paroki bukan sekadar pengukuhan jabatan, melainkan sebuah panggilan iman. Mereka yang dilantik tidak hanya menerima tugas, tetapi menjawab undangan Tuhan untuk melayani. Dalam keheningan hati, terpantul pertanyaan-pertanyaan mendalam: Mengapa saya dipanggil? Apa yang hendak saya persembahkan? Bagaimana saya dapat setia dalam pelayanan ini?

    Sabda Tuhan tentang Yesus yang membasuh kaki para murid menjadi terang yang menuntun. Di sanalah tergambar jelas bahwa kepemimpinan dalam Gereja adalah tentang kerendahan hati dan pelayanan. Bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani dengan kasih yang tulus dan tanpa syarat.

Dengan kesadaran itu, para pengurus yang dilantik merangkai komitmen dalam hati mereka: melayani bukan karena ambisi, tetapi karena panggilan; hadir bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi menjadi tanda kasih; menjadi jembatan persaudaraan, bukan sumber perpecahan; dan tetap setia, bahkan dalam keterbatasan.

    Mereka sadar bahwa mereka bukanlah pribadi yang sempurna. Namun dalam iman, mereka percaya bahwa Tuhan yang sempurna mampu berkarya melalui keterbatasan manusia. Karena itu, doa dan dukungan umat menjadi kekuatan yang sangat dibutuhkan, agar langkah pelayanan tetap teguh dan hati tetap rendah.

    Momentum ini juga menjadi tanda indahnya kebersamaan. Kepercayaan yang diberikan oleh umat bukan hanya amanah, tetapi juga ikatan kasih yang menguatkan. Umat dan pengurus berjalan bersama, saling menopang, membangun Gereja sebagai rumah yang penuh cinta.

Foto bersama pengurus DPP dengan Bapa Uskup


    Di bawah terang pagi yang kian meninggi, satu keyakinan tumbuh kuat: bahwa pelantikan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah perjalanan pelayanan. Perjalanan yang mungkin penuh tantangan, namun selalu diterangi oleh kasih Tuhan.

    Hari itu akan dikenang bukan hanya karena siapa yang melantik, tetapi karena semangat yang dilahirkan. Semangat untuk melayani dengan rendah hati, mencintai dengan tulus, dan berjalan bersama dalam iman.

    Pelantikan ini bukan sekadar peristiwa. Ia adalah panggilan. Ia adalah janji. Ia adalah awal dari karya kasih yang terus hidup di tengah umat.


(Ketua II DPP – Laurensius Mali Serani)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Gema Persaudaraan di Bumi Adonara: Saat Hujan Tak Mampu Memadamkan Api Kasih Anak Sekar-Sekami"

MENENUN IMAN, MERAJUT SUKACITA DI MANGAALENG

MINGGU PALMA: Adalah Sebuah Panggilan untuk Berjaga Bersama Tuhan